Kata temanku, jenis orang yang aku jelasin di atas cuma hidup di dunia utopia. Sejujurnya, aku yakin manusia itu ada di dunia nyata. Apakah rejekiku bisa bertemu satu? Xixi semoga.
Ramadhan tanggal 22! Sepuluh hari terakhir ramadhan tuh kegiatan sehari-hari lebih demanding ke ibadah. Somehow kalo lagi fokus ke ibadah gini, kegaitan sehari-hari malah lebih produktif dibanding ketika males-malesan ibadahnya. Salah satu yang sedang aku persiapkan sekarang itu seputar rencana studiku. Tepat banget hari ini tema moment to recharge adalah life design, yang secara umum ngebahas gimana kita merencanakan seperti apa kita akan habiskan sisa hidup yang nantinya akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Kak Sherly membuka pembicaraan dengan satu pernyataan, "termanifestasi atau tidaknya kebiasaan di bulan ramadhan menjadi karakter kita itu bisa dilihat setelah bulan ramadhan berakhir". Segimana kebiasaan yang udah dibangun selama ramadhan itu telah melewati beberapa pengorbanan seperti jam tidur yang berkurang, harus nahan lapar dan haus, serta mengelola emosi dengan lebih baik lagi; maka akan disayangkan kalau habitnya tidak melahirkan karakter baik yang k...
Dulu pas umur 17 tahun, di usia semangat-semangatnya "menemukan" diri, aku malah dikenalkan dengan Tuhan. Allah, Islam, dan identitasku sebagai muslim. Belakangan aku sadar, ketika aku mulai lengah dengan konsep diri, di situ juga aku secara ga sadar menjauh dari Allah. Hmm, kenapa ya? Pagi ini, pertanyaan itu terjawab oleh Ustad Aad atau mungkin lebih dikenal Bang Aad. Beliau mengutip kalimat Rumi soal konsep diri, "Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya". Aku langsung paham karena pengalamanku juga bilang demikian. Kalau aku di titik bisa jujur dengan diri sendiri, tentang siapa aku, apa minatku, apa tujuanku; maka aku menemukan kemudahan mengerti Tuhanku, jalan yang Ia arahkan untukku, dan peran yang Ia titipkan di pundakku. Regardless, skala kecil atau besar. Namun sebaliknya, ketika pandanganku soal diri menghambur, rasanya jalan Allah itu sempit sekali. Kemudian Bang Aad juga menyempaikan, bahwa dari nama-nama Allah, kita bisa melihat refleks...
Pagi pertama di bulan ramadhan tahun ini diisi dengan sebuah kajian online yang jadi rangkaian acara dari Kelas Ramadhan Maksimal a.k.a KRM. Masih ingat dengan insight dari kajian sebelumnya yang menekankan tentang niat, hari ini aku meniatkan untuk hadir penuh di kajian tersebut bersama para peserta yang disatukan oleh layar, internet, dan karuniaNya. Sambil merapihkan halaman kebunku, ustad yang menjadi pemateri bicara soal tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia yang rendah. Menurutku ini lucu, karena dulu kakek nenek kita terkenal memiliki budaya ramah tamah yang tinggi dan tentu itu identik dengan senyuman dan penyambutan yang hangat. Namun makin kesini, aku juga sadar seolah budaya kita tergerus dan bergeser sampai kini kita menyandang predikat "netizen paling tidak sopan". Bertolak belakang banget wkwk. Ustad tersebut juga menjelaskan makna taubat, yang sederhananya adalah kembali pada Allah. Entahlah menurutku ini salah satu bentuk cinta Allah pada umatnya, dimana I...
Comments
Post a Comment