Dulu pas umur 17 tahun, di usia semangat-semangatnya "menemukan" diri, aku malah dikenalkan dengan Tuhan. Allah, Islam, dan identitasku sebagai muslim. Belakangan aku sadar, ketika aku mulai lengah dengan konsep diri, di situ juga aku secara ga sadar menjauh dari Allah. Hmm, kenapa ya? Pagi ini, pertanyaan itu terjawab oleh Ustad Aad atau mungkin lebih dikenal Bang Aad. Beliau mengutip kalimat Rumi soal konsep diri, "Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya". Aku langsung paham karena pengalamanku juga bilang demikian. Kalau aku di titik bisa jujur dengan diri sendiri, tentang siapa aku, apa minatku, apa tujuanku; maka aku menemukan kemudahan mengerti Tuhanku, jalan yang Ia arahkan untukku, dan peran yang Ia titipkan di pundakku. Regardless, skala kecil atau besar. Namun sebaliknya, ketika pandanganku soal diri menghambur, rasanya jalan Allah itu sempit sekali. Kemudian Bang Aad juga menyempaikan, bahwa dari nama-nama Allah, kita bisa melihat refleks...
Pagi pertama di bulan ramadhan tahun ini diisi dengan sebuah kajian online yang jadi rangkaian acara dari Kelas Ramadhan Maksimal a.k.a KRM. Masih ingat dengan insight dari kajian sebelumnya yang menekankan tentang niat, hari ini aku meniatkan untuk hadir penuh di kajian tersebut bersama para peserta yang disatukan oleh layar, internet, dan karuniaNya. Sambil merapihkan halaman kebunku, ustad yang menjadi pemateri bicara soal tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia yang rendah. Menurutku ini lucu, karena dulu kakek nenek kita terkenal memiliki budaya ramah tamah yang tinggi dan tentu itu identik dengan senyuman dan penyambutan yang hangat. Namun makin kesini, aku juga sadar seolah budaya kita tergerus dan bergeser sampai kini kita menyandang predikat "netizen paling tidak sopan". Bertolak belakang banget wkwk. Ustad tersebut juga menjelaskan makna taubat, yang sederhananya adalah kembali pada Allah. Entahlah menurutku ini salah satu bentuk cinta Allah pada umatnya, dimana I...
Waktu bagian Indonesia refleksi webinar dari Kelas Ramadhan Maksimal. Walaupun agak telat join zoomnya, tapi alhamdulillah masih bisa dapet inti dari topik yang dibawakan teh Karina Hakman. Btw, liat teh Karina jadi inget masa perjuangan di Kami Muslim. Aku tiba-tiba dikasih amanah jadi ketua departemen, menggantikan ketuaku yang waktu itu cuti kuliah. Waktu itu kehadiranku di organisasi tersebut cukup nyentrik, karena jarang sekali ada perempuan yang ditunjuk jadi pemimpin, kebanyakan hanya jadi wakil laki-laki. Buatku pribadi, laki-laki dan perempuan itu punya kesempatan yang sama dalam mengembangkan dirinya, dimanapun ia berada. Beda konteks kalau dalam rumah. Aku sendiri sudah terbiasa mengisi peran ibu di rumah sejak usia 17 tahun. Iya, peran itu kosong sejak bundaku pergi. Sedari itu juga, aku paham betul peran ibu dan ayah itu beda, mau diutak-atik segimana caranya juga pasti ada bedanya. Aku beruntung karena ayahku soleh wkwk! Maksudnya, ia selalu berusaha mengayomi keluarganya...